INDONESIA JATUH KE JURANG RESESI DI TENGAH PANDEMI, TERASAKAH DAMPAKNYA?

INDONESIA JATUH KE JURANG RESESI DI TENGAH PANDEMI, TERASAKAH DAMPAKNYA?

Sumber : Rapat Departemen Kewirausahaan

Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mash mengalami minus pada kuarta ketiga yaitus ebesar 3,49%. Hal ini membuat Indonesia secara resmi mengalami resesi, menyusul beberapa negara lain yang sebelumnya telah ditetapkan resesi pada kuartal kedua. Resesi ekonomi terjadi ketika suatu negara mengalami Produk Domestik Bruto (PDB) negatif, adanya kenaikan tingkat pengangguran, penurunan penjualan ritel, dan terjadinya kontraksi di pendapatan manufaktur untuk periode waktu yang panjang.

Penyebab utama adanya resesi yang dialami oleh beberapa negara tahun ini adalah adanya pandemic Covid-19. Pandemi yang berkepanjangan menyebabkan beberapa sektor ekonomi terkena dampak, utamanya sektor pariwisata, industri padat karya dan transportasi. Perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektir tersebut, banyak yang melakukan PHK besar-besaran kepada karyawan untuk menjaga cashflow demi kelangsungan usaha. Hal ini juga berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat, karena banyak yang kehilangan pekerjaan.

Walaupun secara kuantitif Indonesia mengalami resesi, namun justru terjadi kenaikan pada IHSG yang naik 3,04% saat penutupoan pada 5 November yaitu pada hari diumumkannya Indonesia memasuki resesi. Dari sisi investor, pertumbuhan ekonomu yang masih minus di 3,49% merupakan kabar baik, karena di kuartal sebelumnya pertumbuhan ekonomi diumumkan minus ssekitar 5%, artinya ada kenaikan pada kuartal ketiga ini. Selain itu, adanya peristiwa politik luar negeri Amerika Serikat juga sedikit banyak turut mempengaruhi kenaikan IHSG.

Selain itu, pada saat event tanggal kembar 11.11, e-commerce shopee juga turut mencatatkan angka penjualan yang fantastis dimana lebih dari 200 juta barang terjual pada event tersebut. Kenaikan angka penjualan ini salah satunya sebagai dampak dari adanya kebijakan PSBB yang dahulu diterapkan dan adanya era kenormalan baru. Banyak UMKM yang akhirnya menggencarkan transaksinya dengan melakukan penjualan online pada e-commerce. Selain itu, pola konsumsi masyarakat juga berubah, dimana saat ini semakin condong untuk melakukan transaksi secara online.

Berdasarkan 2 hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara individual, beberapa lapisan masyarakat mungkin tidak terlalu merasakan dampak dari resesi, berbeda dengan saat yang terjadi pada tahun 1998. Bahkan untuk saat ini, mungkin masih banyak masyarakat yang masih belum mengeahui bahwa saat ini Indonesia tengah mengalami resesi untuk pertama kalinya setelah 22 tahun akibat adanya pandemic yang berkepanjangan.

Walaupun banyak yang belum tahu bahwa Indonesia telah resmi umumkan resesi, namun dampak resesi itu sudah kita alami, lonjakan PHK dan turunnya income sebagian masyarakat yang kemudian menurunkan permintaan sehingga dunia usaha juga menurun juga. Oleh karena itu, pemerintah harus terus menggenjot langkah penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional untuk mencegah dampak buruk resesi lebih dalam lagi. Saat ini perekonomian sudah mulai sedikit membaik. Apabila kasus Covid-19 terus melandai bahkan menurun, mobilitas masyarakat bisa kembali meningkat maka perekonomian akan secara bertahap akan bangkit.

REFERENSI DISKUSI :

https://economy.okezone.com/read/2020/11/05/320/2304514/ekonomi-indonesia-resesi-apa-yang-harus-dilakukan
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5184226/apa-yang-harus-dilakukan-saat-ri-resesi
https://idxchannel.okezone.com/read/2020/11/05/278/2304527/indonesia-resmi-resesi-ihsg-justru-meroket-2-03
https://ekonomi.bisnis.com/read/20201111/12/1316278/harbolnas-1111-transaksi-shopee-melesat-6-kali-lipat
https://fokus.tempo.co/read/1404334/transaksi-hari-belanja-online-11-11-tertekan-akibat-resesi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *