Online Learning Class Secara Permanen, Baik atau Buruk?

Online Learning Class Secara Permanen, Baik atau Buruk?

Sumber: www.columnist.id

Pada masa Pandemi Covid-19 saat ini membuat mayoritas pelajar mengeluhkan berbagai suka duka kelas online. Kelas online dianggap buruk bagi kesehatan karena posisi belajar yang meminimalisir gerakan sehingga membuat punggung cepat letih. Dalam konteks mahasiswa, kelas online seringkali kurang bahkan tidak interaktif antar dosen dengan mahasiswa karena hanya berjalan satu arah. Tidak adanya sosialisasi antar teman membuat mayoritas mahasiswa merasa stress dan membutuhkan dunia luar. Para orangtua seringkali disibukkan dengan tambahan pekerjaan mengurus anak-anaknya yang bersekolah di rumah. Penggunaan gadget yang melebihi waktu ideal sangat berpotensi buruk bagi kesehatan mental dan jasmani.

Itulah mengapa kelas online ini banyak ditentang oleh pelajar sendiri dan tidak direkomendasikan untuk dijalankan secara permanen. Apalagi, fasilitas yang belum merata dari pemerintah sangat tidak mendukung Pembelajaran Jarak Jauh diadakan terus menetus. Infrastruktur bangunan sekolah dan fasilitas di dalamnya juga akan sia-sia karena tidak digunakan secara optimal. Ilmu yang diberikan selama kelas online tidak memberikan peningkatan prestasi secara signifikan. Apalagi, beberapa guru dirasa kurang masif dalam memberikan materi karena hanya sekedar memberi tugas tanpa mengadakan live teaching. Hal tersebut bisa saja dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni gaji yang diberikan untuk para guru tidak sebanding dan kurangnya fasilitas serta pengetahuan teknologi dari para pengajar. Apalagi kebutuhan selama kelas online otomatis lebih besar karena diharuskan untuk membeli fasilitas kuota, wifi, dan lain lain sehingga butuh banyak pertimbangan sebelum kelas online ini dipatenkan.

            Para siswa yang terkekang di rumah juga ternyata berdampak buruk pada kesehatan mental. Mereka kurang bisa mengekspresikan perasaannya ketika di rumah. Kurangnya sosialisasi dengan teman yang seharusnya menjadi hiburan mereka juga tidak bisa dilakukan. Tidak semua siswa juga bisa mengatasi permasalahan tersebut dan mencari alternatif dari kegiatan yang biasa dilakukan di luar rumah.

            Kegiatan kelas online ini sebenarnya sudah pernah diterapkan sebelum adanya pandemi Covid-19 di beberapa tempat seperti universitas-universitas terbuka dan universitas yang telah menerapkan sistem digital. Hal yang perlu disoroti disini adalah maksud dari kata permanen sendiri seperti apa. Permanen bisa diartikan diterapkan ke seluruh Indonesia atau permanen dalam arti dikukuhkan menjadi sistem baru tanpa membuang sistem konservatif. Apalagi, masyarakat sudah diharuskan untuk terjun sesungguhnya dalam teknologi alih-alih masih membiasakan diri dalam teknologi. Adanya pandemi ini sebenarnya mendukung dan memaksa lapisan masyarakat melek teknologi secara cepat karena tuntutan keadaan. Pemerintah juga diharapkan tidak membuang perhatian terhadap pendidikan meskipun saat ini sektor kesehatan dan ekonomi yang lebih genting namun mencetak generasi muda dan emas sangat menentukan bagaimana Indonesia kedepannya. Jika memang sistem kelas online tidak bisa diratakan seccara cepat, pemerintah bisa mengambil langkah-langkah perlahan namun pasti dan tentunya harus mendapat dukungan dari semua instansi pendidikan di Indonesia.

Referensi :

https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/Rkjlq03N-pembelajaran-daring-terus-digencarkan
https://radarsurabaya.jawapos.com/read/2020/10/19/220037/60-persen-daring-di-luar-kampus-40-persen-di-dalam-kampus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *