INDONESIA TIDAK PERLU MENJADI NEGARA MAJU

indo

Ditulis oleh : Bustomi (Staff Departemen Penelitian dan Penalaran LSME FEB UB)

Dalam dunia ekonomi, negara-negara di dunia pada umumnya dibagi menjadi tiga kelompok, yakni negara maju, negara berkembang, dan negara miskin atau tertinggal. Menjadi negara maju adalah impian bagi setiap negara di dunia. Wajar saja, indikator-indikator yang dinisbatkan dengan negara-negara maju mencerminkan capaian-capaian yang sudah berada di level tinggi. Sebut saja misalnya dilihat dari sisi pendapatan per kapita. Suatu negara dikatakan maju jika GNP dibagi dengan jumah penduduknya bisa menghasilkan angka yang tinggi. Kemudian jika dilihat dari tingkat inflasinya cenderung stabil, dan angka pengangguranya rendah, maka suatu negara juga dapat dikatakan maju. Tiga kondisi ini yang menjadi indikator utama suatu negara dikatakan maju (petumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, dan pengangguran). Sementara itu, Michael Todaro menyebutkan negara berkembang memiliki lima ciri diantaranya : 1) ketergantungan dan dominasi pada negara maju, 2) tingkat pertumbuhan dan ketergantungan penduduk tinggi, 3) tingkat pengangguran yang tinggi, 4) bergantung pada sektor pertanian, 4) taraf kehidupan yang rendah, dan 5) tingkat produktivitas rendah. Lebih parah lagi, indikator yang mencirikan kelompok negara ketiga (negara misikin/tertinggal) menyebutkan bahwa negara miskin adalah negara yang tidak mampu berdiri sendiri karena tidak memiliki sistem ekonomi yang dapat memengaruhi keadaan kehidupan masyarakat di negaranya.
Penjelasan singkat di atas seolah memberikan gambaran bahwa kelompok negara maju adalah yang terbaik, sementara kelompok negara berkembang dikonotasikan belum baik atau kurang baik dan negara tertinggal adalah negara buruk. Bagaimana yang sebenarnya dalam dunia nyata? Jawabannya benar, jika dilihat secara makro, namun kita perlu lebih jeli dalam melihat kondisi suatu negara dengan lebih spesifik. Negara-negara maju pada umumnya menganut sistem ekonomi kapitalis. Sistem ini tergolong teori klasik dimana kebebasan menjadi ciri utama. Prinsip “memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas” menjadikan para ekonom berpikir mengenai cara yang efisien untuk memenuhi kebutuhannya. Pada perkembangannya, defenisi “kebutuhan” cenderung mengarah kepada makna “keinginan” sehingga yang terjadi adalah eksplorasi besar-besaran, terus menerus memenuhi keinginan dari kebutuhan primer hingga tersier tanpa mempedulikan cara apa yang dipakai, baik atau tidak. Fakta yang terjadi adalah yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Koefisien gini meningkat karena persaingan sangat ketat. Ketika dialihkan dengan sistem ekonomi sosialis yang diterapkan oleh negara maju sekelas Uni Soviet pun, ternyata juga belum mampu memberikan dampak yang baik bagi rakyatnya. Individu menjadi terkukung oleh sistem ketat pemerintah yang membelenggu mereka. Akhirnya, inovasi dan kreasi pertumbuhannya lambat. Hal ini tak cocok bagi masyarakat Indonesia jika dilihat dari sisi etika ber-ekonomi, karena sistem ekonomi Indonesia adalah pancasila dengan semangat gotong royong yang menjadi ciri khasnya.
Pertanyaan penting selanjutnya adalah dimana sebenarnya posisi Indonesia saat ini? Indonesia sebenarnya masih berada dalam kelompok negara berkembang. Meski demikian, trend pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini jika dikorelasikan dengan teori pembangunan ekonomi menurut W.W. Rostow, Indonsia sedang berada dalam posisi “tahap prakondisi lepas landas” yang ditandai dengan kegiatan investasi yang produktif dan pembangunan infrastruktur yang sangat gencar dilakukan pemerintah. Menurut pengamatan dari World Bank, pertumbuhan ekonomi Indonesia memperlihatkan pertumbuhan yang sangat baik sejak krisis finansial Asia di akhir 1990-an. PDB Indonesia terus meningkat, dari $857 pada tahun 2000 menjadi $3.603 pada 2016. Pada tahun lalu tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia juga mencapai prestasi yang bagus dengan menempati posisi ketiga setelah Tiongkok dan India. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan saat ini bersifat jangka panjang. Kedepan, perkonomian Indonesia akan semakin lancar dengan adanya pembangunan logistik yang telah dilakukan. BI telah memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh di atas 6% pada tahun 2020-2021. Sementara di akhir masa pemerintahan Jokowi-JK pada 2019, ekonomi Indonesia akan tumbuh kisaran 5,3% hingga 5,7%. Hal ini menunjukkan bahwa trend kedepan, dengan pembangunan infrastruktur yang bakal terealisasi dan prediksi pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat, posisi Indonesia tinggal menunggu waktu saja untuk menjadi negara maju. Apalagi di tahun 2030, Indonesia bakal mengalami kondisi bonus demografi. Tentu hal ini akan sangat mengutungkan bagi Indonesia karena sebagian besar jumlah rakyatnya berada di usia produktif.
Lalu, apakah Indonesia perlu menjadi negara maju? Untuk mencapai empat cita-cita pokok negara yang telah tertuang dalam pembukaan UUD 1945, memang predikat negara maju perlu diraih karena indikator-indikator negara maju dalam teori ekonomi pembangunan mengkonotasikan kondisi yang baik bagi suatu negara. Tapi, makna “maju” bagi Indonesia tidak boleh sama dengan “maju”nya negara-negara Barat. Sebab, kita harus tetap mempertimbangkan cara-cara yang baik dalam mencapai suatu tujuan. Tujuan menjadikan negara maju kita berbeda dengan negara lain. Majulah dalam poros Pancasila, dimana kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan sosial tetap menjaga nilai-nilai sosial budaya dan gotong-royong. Maju dalam ekonomi yang beretika.

Referensi :
P. Todaro Michael, 2011, Pembangunan Ekonmi Edisi Kesebelas, Erlangga
Ekbis.sindonews.com
www.worldbank.org/in/country/indonesia/overview
Susilawati, Regional Negara Maju dan Negara Berkembang, BBM 8d

One thought on “INDONESIA TIDAK PERLU MENJADI NEGARA MAJU

  1. Wellfere economic masih menjadi mitos dan impian. Baik kapitalis maupun sosialis sama sama gagal membuktikan apa yang di maksud ekonomi yang menyejahterakan dan berkeadilan sosial. So…..sebenarnya jika manusianya mengetahui apa kebutuhannya dan bukan keinginannya maka bersyukur atas apa yang ada adalah kesejahteraan itu sendiri.

    Merasa cukup adalah kaya itu sendiri.

    Dalam pribahasa jawa “sugih tanpo bondo”.

    Hal yang demikian adalah sebuah sikap yang hanya dapat lahir dr pribadi yang berkharakter berbudhi dan Memiliki kesadaran spiritual.

    So …..material itu perlu, namun tidak cukup.
    Spiritual itu bernilai, namun perlu pengejawantahan yang lebih arif untuk menjadi manfaat buat bukan secara pribadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*