Ini yang Dirasakan Warga Jodipan Setelah Kampungnya Disulap Menjadi Kampung Wisata

Apabila Busan, Korea Selatan memiliki Gamcheon Village, dan Rio de Janeiro, Brazil memiliki Favela, maka Indonesia memiliki kampung serupa, yakni Kampung Tridi dan Kampung Warna-Warni Jodipan yang keduanya memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Saat ini siapa yang tidak mengetahui dua kampung ini? Yang awal mulanya adalah kampung kumuh, namun pada tahun 2016 disulap menjadi tempat wisata yang penuh warna oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (GuysPro) bersama PT. Inti Daya Guna Aneka Warna sebagai CSR atau corporate social responbility.
Kedua kampung ini kini menjadi salah satu ikon Malang. Banyak wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang berkunjung, seperti yang dilakukan mahasiswa Universitas Brawijaya Fakultas Ekonomi dan Bisnis khususnya anggota Penelitian dan Penalaran (PNP) LSME yang melakukan field research. Anggota PNP mewawancari warga setempat untuk memperoleh informasi terkait kesejahteraan warga pasca kampungnya disulap menjadi kampung wisata. Dari wawancara bersama warga diperoleh hasil sebagai berikut:

  1. Dampak positif yang dirasakan warga pasca menjadi tempat pariwisata:
    a. Pendapatan warga meningkat, dibuktikan dengan lahirnya mata pencaharian baru di kampung tersebut seperti tempat makan, toko kelontong, membuat gantungan kunci sebagai souvenir, pemuda dan bapak-bapak sebagai tukang parkir, serta terciptanya ide-ide cemerlang dari masyarakat memanfaatkan peluang. Dampak ini juga dirasakan Ibu Nisiana (33), beliau membuat atap rumahnya sebagai tempat selfi untuk mengabadikan moment wisatawan dengan panorama sungai dan rumah warna-warni. Berikut dokumentasi saat berada di atap rumah ibu Nisiana.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

b. Meningkatnya produktivitas warga yang sebelumnya pengangguran, karena mendapatkan pekerjaan baru, sehingga menjadi lebih produktif dan aktif. Selain itu, disulapnya kampung Jodipan menjadi kampung wisata berdampak pada banyaknya mahasiwa maupun pemerintah yang datang untuk mengadakan pelatihan maupun workshop yang dapat menambah ilmu dan wawasan warganya, seperti pelatihan bahasa asing dan lain sebagainya
c. Mengurangi pengangguran. Terwujudnya kampung Jodipan menjadi kampung wisata membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat, dimulai dari membuka usaha, pengrajin souvernir hingga tukang parkir.
d. Infrastruktur membaik dan lingkungan menjadi bersih. Setelah menjadi kampung wisata, warga menjadi lebih peduli terhadap kebersihan lingkungannya dengan tidak membuang sampah di sungai lagi demi menjaga eksistensi dari kampung ini sendiri. Begitupun dengan infrastruktur rumah warga direnovasi dan pembangunan toilet umum yang sudah mulai banyak ditemukan. Karena menurut Ketua RW 2 Kelurahan Jodipan, Soni Parin mengatakan tak semua rumah memiliki toilet (BBC, 2016).

  1. Permaslahaan yang masih dirasakan warga:
    a. Wisatawan yang lupa waktu, karena Kampung Tridi dan Warna Warni Jodipan ini tidak memiliki jam tutup.
    b. Pembinaan Bahasa Inggris yang kurang intensif. Meskipun sudah terdapat pembinaan Bahasa Inggris untuk warga dari mahasiswa, akan tetapi karena keterbatasan waktu menyebabkan pelatihan Bahasa Inggris masih belum efektif. Warga sudah mampu memberikan pertanyaan Bahasa Inggris dengan wisatawan asing, tetapi untuk memberikan feedback kembali masih kesusahan.
    c. Terjadinya pencurian yang dialami wisatawan. Meskipun Kampung Tridi dan Warna Warni Jodipan sudah dilengkapi 30 kamera pengintai atau CCTV pencurian ini masih sering terjadi. Oleh karena itu para wisatawan diharapkan lebih berhati-hati.

Referensi:
Almaliki. 2019. Kampung Warna Jodipan: Dari Dulu Hingga Sekarang. Online. https://lontar.id/10838/kampung-warna-jodipan-dari-dulu-hingga-sekarang/. (Diakses pada 07 Desember 2019)
Hasil field research Departemen Penelitian dan Penalaran LSME FEB (17 November 2019)
Widianto, Eko. 2016. Kampung warna-warni” Malang, dulu ‘kumuh’ sekarang jadi tempat wisata. Online.https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/10/161016_majalah_kampung_warna_warni_malang. (Diakses pada 07 Desember 2019)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*