KARHUTLA MUNCUL LAGI, DERITA DATANG KEMBALI

Sumber gambar: cnnindonesia.com

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih berlanjut hingga saat ini di wilayah Indonesia khususnya di Riau dan Kalimantan. Karhutla di Indonesia pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015, tetapi yang paling parah adalah di tahun 1997 karena asap merambah sampai ke Australia.

 Menurut Catatan Greenpeace Indonesia, sepanjang tahun 2015 hingga 2018 terdapat 3,4 hektare lahan yang telah terbakar. Jenis tanah gambut menjadi salah satu penyebab terjadinya kebakaran dan penyebaran api menjadi semakin cepat. Tidak hanya karena jenis tanahnya, tetapi cuaca saat ini yang tidak bersahabat juga menjadi fakor penyebab terjadinya Karhutla.

 Faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Riau dan Kalimantan adalah musim kemarau disertai angin yang kencang dan pembebasan lahan. Hal ini dikarenakan lahan yang sudah ditanami pohon sawit, beberapa tahun kemudian menjadi kurang subur, sehingga beberapa pihak atau perusahaan membakar hutan untuk membuka lahan kembali.

Dilansir dari CNN Indonesia, pemerintah masih cenderung pasif terhadap perusahaan yang dengan sengaja membakar hutan. Perusahaan yang telah divonis bersalah banyak yang belum membayar ganti rugi karena tidak adanya ketegasan dan tekanan dari pemerintah, sehingga menyebabkan perusahaan tersebut tidak mengalami jera. Akibatnya, membakar hutan dan lahan akan menjadi hal yang biasa untuk perusahaan lain.

Memang benar, Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang membutuhkan dana besar dan masih memiliki banyak utang, sehingga pemerintah masih acuh terhadap masalah Karhutla dan berfokus pada masalah lainnya. Misalnya, adanya masalah permainan dari hasil ekspor. Hal itu menjadi fokusan pemerintah karena perusahaan yang melakukan ekspor dirasa memberikan dampak yang besar terhadap keuangan.

Adanya Karhutla ini sangat mengganggu kualitas udara di daerah sekitar. Dampak dari Karhutla menyebabkan asap tebal merambah hingga ke Malaysia. Tidak hanya itu, semua mahluk hidup merasakan dampaknya, di antaranya penyakit pernapasan seperti ispa mulai bermunculan karena terlalu banyak menghirup asap, kegiatan belajar mengajar di sekolah diliburkan karena asap yang tak kunjung reda, jarak pandang menjadi terbatas, dan yang tak kalah memprihatinkan adalah satwa-satwa yang kehilangan habitatnya.

Kebakaran lahan tidak hanya dialami oleh Indonesia saja, tapi negara lain juga. Namun bedanya di negara lain ada pemetaan tanah dan terdapat undang-undang tentang pelarangan penggunaan api di lahan ketika musim kemarau tiba. Pemerintah sudah melakukan penanggulangan, tetapi masih sifatnya masih memperbaiki seperti mengerahkan pasukan untuk pemadaman api dan hujan buatan, bukan bersifat mencegah.

Referensi:

Bbc.com. 3 Oktober 2019. Kebakaran hutan: Titik panas berkurang drastic, tapi pemerintah harus tetap waspadai karhutla. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49921090. (Diakses pada 30 Oktober 2019).

CNN Indonesia. 07 Oktober 2019. Titik Panas Karhutla Kembali Meningkat di Sejumlah Daerah. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191007185303-20-437544/titik-panas-karhutla-kembali-meningkat-di-sejumlah-daerah. (Diakses pada tanggal 30 Oktober 2019).

CNN Indonesia. 18 Oktober 2019. Tak Berdaya Rakyat Jokowi Dicekik Asap Karhutla. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190723162307-20-414796/tak-berdaya-rakyat-jokowi-dicekik-asap-karhutla. (Diakese pada tanggal 10 November 2019).

Kompas.com. 07 Oktober 2019. Karhutla Bermunculan Lagi di Riau, Apa Penyebabnya? https://regional.kompas.com/read/2019/10/07/13213891/karhutla-bermunculan-lagi-di-riau-apa-penyebabnya?page=all. (Diakses pada tangga 11 November 2019).

Notulensi Kajian Rapat Departemen Humas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*