SELAMAT BERTUGAS, PAK NADIEM. HARAP KAMI, ANAKMU, UNTUK PENDIDIKAN YANG LEBIH MAJU.

Sumber Gambar: Winnetnews.com

Hampir satu bulan berlalu, semenjak pelantikan para menteri yang akan mendampingi Presiden Jokowi dalam membangun Indonesia untuk lima tahun ke depan. Masih menyisakan banyak kesan bagi masyarakat mengenai sosok – sosok yang menempati posisi menteri periode ini, salah satunya adalah posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dijabat oleh founder Go-Jek, Nadiem Makarim.

Banyak pihak terkejut dengan terpilihnya pemuda 35 tahun tersebut menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, salah satu pos yang sangat vital bagi kemajuan bangsa Indonesia. Hal itu dikarenakan sosok Nadiem yang mempunyai latar belakang businessman belum tercatat pernah memiliki pengalaman dalam hal mengelola pendidikan maupun kebudayaan. Namun, tentu Presiden Jokowi memiliki alasan tertentu dalam menunjuk pria yang berhasil membesarkan Go-jek menjadi salah satu Unicorn.

Orang nomor satu di Indonesia itu beranggapan bahwa, Nadiem adalah sosok yang tepat dalam melakukan loncatan atau terobosan baru dalam dunia pendidikan dengan memanfaatkan teknologi, bidang yang tentunya tak asing bagi Nadiem. Toh juga, Nadiem tidak akan bekerja sendiri dalam melaksanakan tugasnya, beliau akan dibantu oleh wakil menteri, yang saat ini belum di umumkan namanya, dan juga lima staff ahli.

Lalu, apa yang perlu diperhatikan oleh menteri baru di bidang pendidikan dan kebudayaan ini, mengingat latar belakangnya yang bukan dari sosok pengelola pendidikan dan kebudayaan?. Dalam serah terima jabatan, Nadiem mengatakan bahwa langkah pertamanya adalah untuk mendengar dan berdialog dengan pakar pendidikan. Ia juga meminta waktu 100 hari, untuk menyusun rancangan program, sekaligus belajar lebih mendalam mengenai dunia pendidikan.

Sebagai seorang pemuda, Nadiem Makarim diharapkan memiliki cara pandang yang luas dan sudut pandang baru yang inovatif dan kreatif dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Perlu dirancang sistem pendidikan yang match dengan keadaan saat ini, yaitu dengan berbasis teknologi. Harapannya, hal itu mampu menyambut bonus demografi di Indonesia.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Nadiem diantaranya adalah kurikulum, sistem zonasi yang sempat menimbulkan kontroversi, persoalan mengenai Ujian Nasional yang selalu hangat dibicarakan tiap tahunnya, serta kesejahteraan guru honorer yang masih dipertanyakan.

Perubahan kebijakan dalam sistem zonasi menjadi hal yang begitu menarik dibahas beberapa bulan yang lalu. Hal itu dikarenakan perubahan yang terkesan mendadak dan tidak tepat dalam hal waktu penerapan. Zonasi dinilai mampu mewujudkan pemerataan dalam kualitas pendidikan dengan cara menghilangakn secara tidak langsung status sekolah favorit. Dengan sistem ini, diharapkan setiap sekolah memiliki bibit unggul dan tidak terjadi kecemburuan sosial.

Akan tetapi, harapan akan pemerataan tersebut terganjal oleh sarana dan prasarana yang justru tidak “merata”. Sehingga beberapa pihak menilai bahwa zonasi malah mendatangkan “ketidak adilan” bagi siswa. Selain itu, zonasi dapat menurunkan jiwa kompetitif siswa karena tidak ada lagi pelecut semangat untuk masuk ke sekolah yang diharapkan.

Selain itu, sebelum mencuat kontroversi sistem zonasi, dunia pendidikan Indonesia lebih dahulu harus menghadapi “pesta” pendidikan, yaitu Ujian Nasional. Ujian Nasional atau UN selalu memiliki pro dan kontra dalam setiap penyelenggaraannya.  Antusiasme siswa dalam menjalani UN mulai terasa menurun karena merasa bahwa materi UN tidak berpenngaruh besar pada masa depan mereka. Terlebih lagi ketika UN tidak lagi menjadi alat ukur kelulusan siswa, keberadaan UN sendiri mulai dipertanyakan. Meskipun begitu, UN dianggap masih perlu diselenggarakan sebagai evaluasi kinerja sekolah dalam distribusi pendidikan.

Hal penting lain yang perlu diperhatikan oleh Nadiem adalah kesejahteraan guru honorer. Di Indonesia, begitu banyak guru honorer yang tidak mendapatkan imbalan jasa yang sebanding dengan perjuangan mereka dalam memberikan pendidikan, khususnya di daerah terpencil. Selain itu, kompetensi yang dimiliki oleh guru di Indonesia masih banyak yang belum memenuhi kebutuhan standar pendidikan.

Terpilihnya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan kebudayaan, diharapkan mampu menghadirkan solusi atas beberapa isu permasalahan di dunia pendidikan yang tersebut diatas. Sebagai pemuda yang inovatif, kreatif dan menguasai teknologi, loncatan – loncatan dan terobosan baru dalam sistem pendidikan di Indonesia sudah pasti sangat di tunggu.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh salah satu menteri muda tersebut adalah, merevisi penerapan sistem zonasi dengan lebih memperhatikan sarana dan prasarana setiap sekolah terlebih dahulu. Serta, bagaimana cara agar jiwa kompetitif siswa tetap terjaga meskipun alternatif pilihan sekolah mereka semakin sempit. Kemudian, memberikan terobosan baru pada sistem Ujian Nasional, sehingga kehadirannya memiliki peran penting yang berpengaruh besar bagi masa depan siswa

Selain itu, perlu dibentuk regulasi khusus yang mendukung guru honorer, sehingga kesejahteraan mereka dapat terjamin. Sistem peningkatan derajat guru dapat juga dibenahi, sehingga tidak harus menunggu lama untuk dapat mencapai derajat tertentu. Sistem achievement dapat diberlakukan untuk mendorong para guru dalam meningkatkan kualitas mereka. Dan yang terakhir, modernisasi pendidikan harus segera diterapkan agar pendidikan kita tidak tertinggal dari negara lain.

Referensi :

https://m.detik.com/news/berita/d-4758704/jokowi-ungkap-alasan-pilih-nadiem-makarim-jadi-mendikbud

https://tekno-tempo-co.cdn.ampproject.org/v/s/tekno.tempo.co/amp/1267742/jokowi-bekali-nadiem-perpres-untuk-mereformasi-kemendikbud?amp_js_v=a2&amp_gsa=1&usqp=mq331AQCKAE%3D#aoh=15729199756695&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=From%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Ftekno.tempo.co%2Fread%2F1267742%2Fjokowi-bekali-nadiem-perpres-untuk-mereformasi-kemendikbud

https://m-tribunnews-com.cdn.ampproject.org/v/s/m.tribunnews.com/amp/nasional/2019/11/02/jokowi-yakin-pada-nadiem-makarim-sebagai-mendikbud-mas-menteri-minta-waktu-100-hari?amp_js_v=a2&amp_gsa=1&usqp=mq331AQCKAE%3D#aoh=15729199756695&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=From%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.tribunnews.com%2Fnasional%2F2019%2F11%2F02%2Fjokowi-yakin-pada-nadiem-makarim-sebagai-mendikbud-mas-menteri-minta-waktu-100-hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*