FENOMENA KABUT ASAP DI INDONESIA: SUDAH BIASA?

Pada bulan Agustus dan September, di beberapa wilayah di Indonesia sedang dilanda musim kemarau. Intensitas hujan yang sedikit, serta cuaca panas terik menjadi fenomena harian dibeberapa daerah selama kemarau. Satu lagi fenomena menarik dan merupakan gejala tahunan yang terjadi ialah fenomena kabut asap.

            Kabut asap melanda sejumlah provinsi di Indonesia seperti Jambi, Riau, Sumatera Selatan hingga sebagian pulau Kalimantan. Tak hanya secara domestik, Indonesia juga “sukses” mengekspor kabut asap hingga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Media Internasional pun ramai memberitakan ini hingga Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengobservasi langsung gejala kabut asap ini dengan satelit Landsat 8, hasilnya ditemukan sejumlah titik api yang disebabkan oleh kebakaran hutan.

            Kebakaran hutan disebabkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab melakukan pembakaran hutan demi membuka lahan perkebunan. Ditambah lagi di wilayah tersebut didominasi oleh tanah gambut, sehingga akan semakin sulit memadamkan api saat terjadi kebakaran. Kebakaran ini jelas akan mendegradasi luas hutan serta menganggu ekosistem didalamnya, termasuk flora dan fauna. Menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) pemerintah kurang responsif dalam menghadapi gejala ini padahal secara regulasi pada tahun 2015 sudah ada peraturan mengenai perlindungan ekosistem gambut.

Fenomena ini merugikan beberapa sektor seperti dari sektor pendidikan, dimana sekolah sekolah terpaksa diliburkan akibat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sudah memasuki level berbahaya. Dari sektor perkantor baik swasta maupun pemerintahan juga diliburkan. Sementara itu sejumlah penerbangan khususnya di Bandara Sultan Syarif Kasim II terpaksa ditunda karena jarak pandang yang minim dan tidak memenuhi standar keamanan untuk melakukan penerbangan. Serta dari sisi medis, menyebabkan peningkatan jumlah pasien yang terkena Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) dibeberapa rumah sakit.

            Oleh karenanya agar fenomena ini tidak terjadi di masa mendatang maka dapat dilakukan beberapa hal seperti membentuk regulasi yang lebih ketat serta penegakan hukum yang tegas terutama terhadap perusahaan maupun oknum yang secara sengaja melakukan pembakaran hutan, membentuk tim cepat tanggap serta memaksimalkan peran dan fungsi polisi hutan.

DAFTAR PUSTAKA:

Detik.com. Kebakaran Hutan Kalimantan Dipotret Satelit NAS Miris Banget. https://m.detik.com/inet/science/d-4712775/kebakaran-hutan-kalimantan-dipotret-satelit-nasa-miris-banget (diakses tanggal 25 september 2019)

Detik.com. Walhi Pemerintah Cenderung Menghindar Selesaikan Akar Masalah. https://m.detik.com/news/berita/d-4716387/walhi-pemerintah-cenderung-menghindar-selesaikan-akar-masalah-karhutla?_ga=2.147063794.470336877.1569130187-846912233.1482189502 (diakses tanggal 25 september 2019)

Liputan6.com. Terdapat 2288 Titik Api Kategori Sedang dan Tinggi di Indonesia. https://m.liputan6.com/news/read/4068451/terdapat-2288-titik-api-kategori-sedang-dan-tinggi-di-indonesia?gl=1*1ru9br1*_ga*bC1yYU14ZmFyT2U5LU1CejlCZF9rdUVoZXYzTERrNmNSLVp3SlRjR1lnbzZtUmdlY05MSzU0ZERCWWJqSU9paA             (diakses tanggal 25 september 2019)

Notulensi Kajian Rapat Departemen SDM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*